Di Bali, Hari Nyepi bukan sekadar perayaan bagi umat beragama Hindu, tapi juga bentuk pelestarian budaya. Dalam menyambut dan mengakhiri Hari Nyepi, warga di Pulau Dewata ini memiliki tradisi yang unik, serta sarat akan makna penyucian diri. Berikut rangkaian tradisi Nyepi di Bali yang harus kamu ketahui.

Upacara Melasti

Tradisi nyepi di Bali
Tradisi nyepi di Bali

Melasti adalah upacara penyucian diri untuk menyambut Hari Raya Nyepi yang dilakukan saat dua sampai tiga hari sebelum perayaan. Kegiatan yang dilakukan erat maknanya dengan menghanyutkan “kotoran alam” menggunakan sumber air seperti danau atau laut untuk menyucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat dibagi per kelompok untuk pergi ke sumber air. Setiap kelompok berasal dari satu kesatuan wilayah yang sama. Nantinya, masyarakat membawa perangkat peribadahan, yaitu pratima, pralingga, dan arca untuk disucikan. Tak lupa juga sesajian untuk dipersembahkan sesuai kemampuan masing-masing. Benda-benda dan sesajian tersebut akan diletakkan di meja atau panggung yang posisinya membelakangi sumber air.

Selanjutnya, upacara akan dipimpin para pemuka agama (pemangku). Sebagai wujud pensucian, mereka akan memercikkan air suci ke perangkat peribadatan dan seluruh masyarakat yang hadir, serta menebarkan asap dupa. Usai itu, seluruh anggota rombongan akan melakukan ritual persembahyangan (panca sembah) di mana para pemangku akan membagikan air suci untuk diminum dan bija (beras yang telah dibasahi air suci) untuk dibubuhkan ke dahi setiap umat yang datang. Selepas prosesi ini, perangkat peribadahan diarak kembali ke pura untuk menjalani beberapa tahapan ritual yang lain.

 

Pawai Ogoh-Ogoh

Tradisi nyepi di Bali
Tradisi nyepi di Bali

Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang menjadi simbol dari Bhuta Kala. Patung tersebut berwujud menyeramkan dan rupanya diambil dari makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, Widyadari, bahkan orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama. Sebutan ogoh-ogoh berasal dari kata “ogah-ogah” yang berarti “mengguncang” dan mewakili kejahatan yang harus dihindari manusia.

Dulunya, patung dibuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring berkembangnya zaman, bahan yang digunakan adalah besi dan bambu yang dirangkai menjadi anyaman dan dibungkus gabus atau styrofoam. Pembuatan ogoh-ogoh tentunya berlangsung dari jauh hari sebelum Nyepi dan dibuat oleh anak-anak muda sebagai bentuk kreatifitas mereka.

Sehari sebelum Nyepi, pawai ogoh-ogoh dirayakan bersamaan dengan ritual ngrupuk, di mana masyarakat akan berkeliling lingkungan sambil mengeluarkan bunyi-bunyian dan menebarkan nasi tawur serta asap dupa atau obor. Secara bersamaan, ogoh-ogoh juga akan diarak keliling desa oleh mereka yang telah meminum arak sebagai simbol perilaku buruk. Pawai akan diakhiri dengan membakar ogoh-ogoh sampai habis. Kegiatan ini dilakukan agar unsur-unsur negatif yang ada pada masyarakat dapat “diusir” secara bersamaan dengan musnahnya ogoh-ogoh.

 

Puncak Perayaan Hari Nyepi

Tradisi Nyepi di Bali
Tradisi Nyepi di Bali

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Dalam penyucian di Hari Nyepi, seluruh tempat di Bali akan ditutup. Seluruh warga tidak boleh melakukan aktivitas apapun di luar rumah dan harus mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. Hal ini untuk menghormati umat Hindu di Bali yang melakukan Catur Brata Penyepian, meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelanguan (menghentikan kesenangan), amati lelungaan (tidak berpergian).

 

Ngembak Geni

Ngembak Geni: tradisi Nyepi di Bali
Ngembak Geni: tradisi Nyepi di Bali

Dalam bahasa Bali, Ngembak berarti bebas dan Geni berarti api. Jika digabungkan, pengertian Ngembak Geni adalah bebas menyalakan api. Namun, dalam pengertian luas, Ngembak Geni berarti terbebas dan dapat kembali beraktifitas. Untuk itu, tradisi ini dilakukan selepas Hari Nyepi.

Sebagai bentuk rasa syukur, tradisi yang dilakukan adalah masyarakat bersembahyang untuk memanjat syukur dan memohon kepada kepada Sanghyang Widhi Wasa (sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Hindu) agar selalu dilindungi, diberi kemudahan, serta kebaikan sehingga bisa kembali menjadi manusia yang baru. Selain itu saat Ngembak Geni juga dilakukan Dharma Shanti (bersilaturahmi dan saling memaafkan), baik di lingkungan teman, keluarga maupun masyarakat.

 

Omed-Omedan

Omed-Omedan: tradisi Nyepi di Bali
Omed-Omedan: tradisi Nyepi di Bali

Pada saat Ngembak Geni, ada tradisi Omed-Omedan yang dilakukan usai Hari Nyepi oleh pemuda-pemudi berusia 17 – 30 tahun di Banjar Kaja, Desa Sesetan. Dalam Bahasa Bali, “Omed-Omedan” berarti tarik-tarikkan. Seperti itu juga tradisi yang dilakukan di mana peserta pria dan wanita tarik-menarik dengan tangan kosong dan disirami air.

Tradisi dimulai dengan pertunjukkan tarian Barong Bengkung. Kemudian, dilanjuti dengan persembahyangan bersama di pura untuk memohon keselamatan. Setelah sembahyang, peserta dibagi dua kelompok dengan kategori laki-laki dan perempuan. Kedua kelompok akan diangkat dan saling berhadapan setelah diberi aba-aba oleh seorang sesepuh.

Nantinya, mereka saling bertabrakan dan disiram air. Saat bertabrakan, pemuda-pemudi dapat mengekpresikan kebahagiaan mereka. Ada yang memeluk dan ada juga yang mencium. Ritual ini bukan berarti perbuatan yang tak senonoh, namun justru bermakna ungkapan syukur dan rasa persaudaraan. Tapi, tidak menampik kalau yang saling bertabrakkan bisa saling berjodoh, lho!

 

Tradisi mana yang paling berkesan buat kamu? Untuk kamu yang akan berlibur di Singapura, Filipina, Vietnam atau Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Solo, Malang, Manado, Makassar, Palembang, Banjarmasin, Balikpapan, Pekanbaru, Cirebon, Lampung, Batam, Bogor, Bali, Yogyakarta dan Surabaya, RedDoorz hadir sebagai tempat penginapan murah dengan fasilitas lengkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s