Tahan diri untuk nggak mudik lebaran di tengah wabah corona tahun ini demi kebaikan bersama.
Tahan diri untuk nggak mudik lebaran di tengah wabah corona tahun ini demi kebaikan bersama.

Sebagai salah satu upaya penanganan penyebaran virus, Pembatasan Sosial Berskala Besar mulai diterapkan di Jakarta yang disebut sebagai Epicentrum Covid-19, juga beberapa kota penyangga di sekitarnya seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Lebih jauh, kegiatan mudik saat lebaran nanti pun bukan pilihan bijak meski mungkin amat sulit dilakukan.

Baca juga: Tradisi Puasa Ramadan di Indonesia yang Selalu Bikin Kangen

RedTraveler sendiri, biasanya rutin mudik lebaran kah? Lalu dengan kondisi kayak gini, apa plan penggantinya? Anjuran buat nggak mudik di tengah wabah virus corona ini nggak main-main, lho.

Alasan Nggak Perlu Mudik di Tengah Wabah Corona

Ancaman virus corona nggak bisa dipandang sebelah mata, terlebih hingga kini belum ada vaksinnya. Lebih baik kita semua tetap saling jaga dan sebisa mungkin jangan tertular ataupun menularkan. Masih perlu alasan buat diam di rumah dan nahan supaya nggak mudik lebaran tahun ini? Nih, RedDoorz kasih biar kamu makin paham!

Sulit Menerapkan Social Distancing dan Physical Distancing

Kalau pergi naik angkutan umum, akan sulit sekali menerapkan dua hal ini. Kamu akan bertemu banyak orang yang entah dari mana saja rute perjalanannya, bertemu dengan siapa saja, dan aman dari virus atau nggak. Belum lagi, kamu mau nggak mau bakal berada di tempat-tempat umum juga menyentuh benda-benda yang disentuh banyak orang. Siapa yang bisa menjamin kalau perjalanan mudik ini bakalan aman?

Kamu Berpotensi Jadi Carrier Saat Mudik

Ingat para orang tua serta sesepuh lain yang rentan terhadap penularan. Meski kamu sendiri tampak sehat dan bugar, belum tentu kamu terbebas dari virus dan nggak menularkan ke yang lain. Apa kamu tega? Keegoisan kamu yang memaksa tetap mudik bisa jadi bencana dan membuat penyebaran virus Covid-19 tambah meluas, lho.

Terancam jadi ODP

Beberapa wilayah di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat membuat peraturan bahwa pemudik yang berasal dari luar wilayah wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari setibanya di kampung halaman. Itu artinya kamu mudik pun nggak bisa menghabiskan banyak waktu dengan keluarga. Kalau melanggar? Siap-siap saja dikenakan hukuman dari pemerintah setempat.

Fasilitas Kesehatan di Daerah Mungkin Belum Memadai

RedTraveler bayangkan saja, di ibukota yang memiliki fasilitas kesehatan memadai saja tenaga medis kewalahan menangani pasien. Bagaimana di daerah? Di sana mungkin keterbatasannya lebih ketat. Kalau banyak orang mudik dan membawa virus ke daerah, lalu kasus positif Covid-19 di daerah meningkat, bagaimana cara tenaga medis bisa menolong para pasien? Makanya, lebih baik kita terus menerapkan karantina mandiri dan hindari mudik, untuk menolong diri sendiri dan keluarga kita di kampung halaman.

Baca juga: Menu Buka Puasa Ramadan ala Orang Indonesia

Coba berpikir lebih panjang soal mudik ini ya, RedTraveler. Kalau sedih nggak bisa kumpul bareng keluarga, kalau keberatan menahan rindu lebih lama; ingatlah kalau bukan cuma kamu aja yang ngerasain itu. Kita mengalami situasi ini bersama-sama, dan hanya dengan kesadaran kolektif untuk saling jaga lah kita bisa bantu menyelesaikan persoalan ini atau setidaknya nggak bikin tambah parah.

Nanti pasti ada waktunya kita bisa beraktivitas kembali seperti biasa dan berkumpul bersama keluarga. Sekarang sabar dulu, ya!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.